in

Penyakit Hoarding Disorder, Kebiasaan Menimbun Barang Bekas

penyakit hoarding disorder atau kebiasaan menimbun barang bekas
#image_title

Biasalah.news – Sebuah unggahan foto kebiasaan menimbun barang bekas yang tak terpakai atau penyakit hoarding disorder, sedang ramai dibicarakan di media sosial Twitter.

Foto tersebut diunggah oleh akun autobase twitter @convomfs.

Akun Twitter tersebut mengunggah video tersebut pada Jumat (17/2/2023). Pada foto, terlihat barang belanjaan bekas, seperti plastik pembungkus, paper bag dan sampah lainnya yang disimpan oleh si pengunggah.

Cuplikan postingan Twitter mengenai penyakit hoarding disorder atau kebiasaan menimbun barang bekas

“Kenapa ya aku tuh numpuk beginian mulu?,” tulis sang pengunggah.

Hingga Minggu (19/2/2023) sore, unggahan tersebut telah dilihat sebanyak 1,4 juta kali dan mendapat lebih dari 2.300 komentar dari warganet.

“Hoarder namanya, nder.. Dulu gw jg suka bgt ngumpulin packaging plastik smp laci gw penuh, nder. Tp gw berobat ke dokter, dan itu ngebantu bgt. Jd lbh rapi dan hidup jg rasanya lbh baik,” tulis salah satu akun pengguna Twitter.

“Nder hati2, itu penyakit, kalo mengganggu seek for profesional ya,” kata salah satu akun pengguna Twitter.

“Gue juga tp bukan yg bentuknya begini. Lebih kek bungkus skincare sama make up yg kotak². Kalo mau dibuang, kayak “nanti keknya kepake” PDHL JG GATAU BUAT APA. Pernah udah sampe menggunung bgt, akhirnya berat hati aku buang wkwkkw,” kata salah satu netizen lain.

Lantas apa alasan sebenarnya orang sering menimbun barang yang tidak digunakan?

Menimbun, jelas Psikolog sekaligus Dosen Departemen Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, adalah suatu kondisi atau perilaku seseorang yang lebih memilih untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai dengan alasan mungkin akan berguna di kemudian hari

Orang-orang dengan hoarding disorder biasanya menyimpan barang-barang bekas dan tidak terpakai agar tidak mengotori dan mengotori rumah atau ruangan, seperti koran, plastik, kantong kertas, dan pakaian.

“Gangguan menimbun bisa menimbulkan anxiety atau kecemasan,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Minggu (19/2/2023).

Baca Juga: 9 Kebiasaan Makan yang Menggambarkan Kepribadian Seseorang

Ratna menjelaskan bahwa perilaku hoarding disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

Faktor internal berkaitan dengan konsep diri seseorang. Konsep diri berkaitan dengan bagaimana seseorang mempersepsikan fungsi atau makna dari objek.

Misalnya benda yang mengingatkannya pada orang tuanya, maka melihat benda tersebut membuatnya senang.

Ratna menjelaskan, “Jika seseorang menimbun barang-barang yang tidak terpakai tanpa alasan, maka mereka mengalami gangguan obsesif-kompulsif. OCD ditandai dengan pikiran  dan ketakutan irasional (obsesi) yang mengarah pada perilaku kompulsif. Ini ada hubungannya dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengatur pikirannya dan kemampuan mereka untuk menahan diri dari melakukan sesuatu berulang kali, seperti menimbun barang.”

Ratna mengungkapkan bahwa salah satu alasan orang menimbun barang adalah karena barang tersebut memiliki kenangan abadi yang tidak dapat mereka lupakan.

Ketika seseorang ingin membuang barang-barang yang sebenarnya tidak digunakan lagi, mereka merasa kehilangan ketika membuangnya.

Hoarding disorder juga bisa disebabkan oleh pola asuh, kata Ratna.

Orang tua tidak mengajari anak cara mengkategorikan sesuatu menurut fungsinya.

“Dalam hal ini, orang tua biasanya mengajarkan anaknya untuk menyimpan barang karena mungkin akan digunakan di kemudian hari,” ujarnya.

Tanda depresi adalah kurangnya semangat seseorang untuk melakukan aktivitas, terutama aktivitas sehari-hari, termasuk membersihkan barang-barang di sekitar.

Orang yang depresi mungkin menemukan kenyamanan dalam menimbun barang. Dengan begitu itu memungkinkan hal-hal menumpuk dan tidak membersihkannya.

Menurut Ratna, orang yang mengalami hoarding disorder memiliki beberapa gejala, antara lain:

  • Merasa sulit untuk membuat barang bekas yang tak terpakai lagi.
  • Merasakan cemas saat ingin membuang barang bekas yang tak dipakai lagi.
  • Tidak mau membersihkan rumah atau kamar dari tumpukan barang.
  • Tidak bisa memutuskan untuk membuang sesuatu.
  • Jika semakin sering menimbun barang bekas akan membuatnya semakin cemas karena tidak tahu fungsinya.

Untuk mengobati hoarding disorder, sang penderita bisa menjalani cognitive behavorial therapy atau CBT.

Randy Frost dan Gail Steketee, profesor di Universitas Boston, telah mengembangkan program CBT 26 sesi khusus untuk gangguan penimbunan, seperti yang dijelaskan dalam panduan terapis “Treatment for Hoarding Disorder”.

Program ini terdiri atas berbagai macam unsur, beberapanya adalah terapi kognitif untuk mengubah persepsi menimbun barang, cara membuang benda, pelatihan keterampilan organisasi benda, dan wawancara motivasi.

Akan tetapi, CBT kurang berguna untuk orang tua seperti orang tua.

Sedangkan hoarding disorder lebih sering terjadi pada orang tua dan cenderung memburuk seiring bertambahnya usia.

Perawatan pasien lanjut usia dengan gangguan penimbunan harus fokus pada rehabilitasi kognitif.

Rehabilitasi ini dimodelkan pada intervensi untuk pasien yang menderita cedera kepala yang traumatis.

Selain itu, antidepresan yang disebut inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) juga telah terbukti membantu beberapa orang dengan gangguan penimbunan.

Sumber: Kompas.com

Buat Website GRATIS!!!

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Hewan-hewan paling pemberani di dunia

4 Hewan Paling Pemberani di Dunia, Jawabannya Bukan Singa!

Bikin Salfok!!! 10 Foto Oklinfia Tiktok Sexy yang Berhijab