in

Penerima LPDP Tidak Balik ke Indonesia, Potensi Brain Drain?

Penerima LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) enggan balik ke Indonesia, sosiolog duga adanya brain drain di antara awardee LPDP

Biasalah.news – Dilaporkan sebanyak 413 penerima LPDP atau Lembaga Pengelola Dana Pendidikan tidak kembali ke Indonesia setelah menerima beasiswa. Padahal, dalam pedoman calon awardee LPDP memberlakukan kewajiban untuk kembali ke Indonesia.

Mengapa banyak penerima atau penerima LPDP di luar negeri yang enggan kembali ke Indonesia?

Menanggapi hal itu, sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Tuti Budirahayu mengatakan, alasan banyaknya penerima manfaat LPDP yang enggan untuk kembali ke Indonesia.

Tuti membaginya menjadi dua kategori, kategori pertama untuk mantan penerima beasiswa yang benar-benar melanggar aturan LPDP.

Kategori pertama ini tidak membayar ganti rugi LPDP selama masa studi hingga lulus dan bahkan tidak kembali ke Indonesia.

“Tentu saja, ini merupakan pelanggaran serius dan secara sosiologis dianggap menyimpang. Artinya melanggar aturan atau undang-undang yang berlaku dan oleh karena itu dapat dipidana,” demikian dikutip dari laman Unair.

Kategori kedua mencakup mantan sarjana yang bekerja di luar negeri atau menikah dengan orang asing setelah menyelesaikan studinya.

Namun pada kategori kedua, kewajiban membayar denda terpenuhi, atau setidak-tidaknya kewajiban terkait pelanggaran terpenuhi.

Baca Juga: Perbedaan Antara SNBP dan SNBT 2023, Jalur Masuk PTN secara Nasional

Penerima LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) tidak kembali ke Indonesia, sosiolog Unair duga adanya brain drain di antara awardee LPDP

Tuti mengatakan penerima kategori kedua adalah mereka yang terkena dampak fenomena brain drain. Apa itu brain drain?

Dosen Sosiologi Fakultas Sosiologi dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga ini menjelaskan, brain drain adalah arus perpindahan para intelektual, ilmuwan, akademisi dari negeri asalnya ke luar negeri.

Secara sederhana, situasi ini menggambarkan seseorang yang memiliki keterampilan atau kecerdasan tetapi tidak menggunakannya untuk membangun bangsa.

Padahal, mereka lebih memilih bekerja atau berkarir di luar negeri karena berbagai faktor.

“Bisa jadi karena keuntungan tinggal di luar negeri lebih baik, seperti gaji yang jauh lebih tinggi, atau karena dialihkan ke negara lain karena keahliannya. Bisa juga karena mereka imigran dan tidak bisa kembali ke negaranya secara politik atau karena pilihan hidupnya,” ujar Tuti.

Tuti mencontohkan brain drain tidak hanya terjadi pada penerima manfaat LPDP, tetapi juga mereka yang bersekolah di luar negeri dengan biaya sendiri dan lebih memilih untuk menetap.

Masalah brain drain perlu disikapi dengan berbagai kebijakan yang ada di Indonesia.

Menurutnya, jika lebih banyak orang memilih untuk bekerja atau memulai bisnis di luar negeri, itu karena mereka kurang dihargai oleh pemerintah Indonesia.

Dan tidak hanya di sisi berpenghasilan rendah, tetapi juga apresiasi terhadap tempat kerja yang tidak memenuhi harapan mantan mahasiswa asing.

“Walaupun kami terus memperbaiki sistem dan aturan terkait kewajiban berdonasi. Komitmen untuk kembali ke Indonesia berkontribusi adalah janji calon awardee. LPDP juga akan meminta, mendalami dan menggugat lagi,” tutupnya.

Sumber: Kompas.com

Buat Website GRATIS!!!

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Video viral uang sepuluh ribu untuk makan 3 kali di Wonogiri

Ini Caranya Uang Sepuluh Ribu Buat Makan 3 Kali di Wonogiri!

Kisah romantis karena salah kirim sms dan berujung di ikatan pernikahan

Kisah Romantis Salah Kirim SMS, Berujung ke Pernikahan